Wednesday, December 31, 2008

TAHUN BARU

Berganti

Dengan setumpuk PR yang berkejaran dengan waktu
Tinggal sedikit lagi waktu

Menyelesaikannya atau meninggalkan sisa

Resolusi 2009

Monday, December 22, 2008

IBU CANTIK

Melukis kekuatan lewat masalahnya
Tersenyum saat tertekan

Tertawa di saat hati sedang menangis
Memberkati di saat terhina

Mempesona karena mengampuni
IBU CANTIK, mengasihi tanpa pamrih
dan bertambah kuat dalam doa dan pengharapan


( From Bunda Riza : Dikirim khusus untuk setiap IBU CANTIK , Pada hari Ibu 22 Desember 2008 - untuk teman-teman sesama Ibu : Umie Hana, Ibu Een , Mamak Eva - Persahabatan tanpa pamrih )

BELAJAR MENULIS LAGI ( INSPIRING MEITY )

YIN YANG MEITY MUTIARA ( INSPIRASI )

Sebenarnya - setaon dulu - ide ngeblog ini pernah terealisasi. Dimulai dengan semangat bahwa keinginan menulis adalah keinginan paling besar yang pernah ada selama ini- Tulis tulis dan tulis bukan karena ketika ehmmmm karya mendapat juara - cerita dimuat di media atau ketika tulisan terpampangkan nama


Kemudian mati suri - istilah Meity

Sebenarnya - bertaon dulu - inspirasi ini memenuhi jagad minda
Kemudian mati rasa - istilah Meity

Sebenarnya - bertaon akan datang - kini dan nanti , menulis adalah sebuah gairah yang menghidupkan diri - memetakan paruh bumi - menjalinkan jarak dan waktu - dan itu diyakinkan Meity pada ku.

Kami bertanding - mengalahkan Andrea Hirata
Kami berlomba - menjadi NH Dini
Kami bersaing - menghidupkan inspirasi inspirasi yang terhujam kebosanan dan sempat mati suri berkali-kali

Tiba pada kesimpulan , bahwa kita tidak pernah berhenti belajar- bahkan ketika mati.


( kesederhanaan tulisan adalah Yin Yang yang membuatnya beda - )

Sunday, December 21, 2008

BELAJAR DARI GURINDAM XII

Ketika semua berkiblat belajar ke Barat
Kita tergagap

Padahal kita punya the core of lesson tentang pembelajaran hidup. Setangkup syair sarat makna yang berjenjang horizontal dan berleret vertikal memberikan pemaknaan yang sesungguhnya tentang hidup

The GURINDAM XII !!!!


SYAIR GURINDAM : SEBUAH EPILOG

Prolog I
( Gedung Aisyah Sulaiman : Tanjung Pinang )

Gurindam dua belas
Gubahan Raja Ali Haji.........

Panggung masih berhias bunga manggar
Pantun masih bergema dihantarkan menutup acara
Deretan pelantun gurindam dalam pose berbingkai
Mengenakan tudung manto dan kembang goyang
Bersongket, memadan , berdiri memajang piala berangkai

Usai sudah perhelatan
Tetamu beranjak, penonton mengangsur langkah
Pelantun gurindam membawa pulang kemenangan
Mendayukan bait bait patahan kata penuh makna
Membuai pendengar dengan legato syair menyentuh perasaan

Meninggalkan gedung tanpa penonton
Meningalkan patahan lantunan gesekan dawai
Pengiring .............

............ „ Gurindam dua belas,
......................................kami mohon berhenti............”
Suara dara molek melepas bait akhir tangkup pasal gurindam.........


Adakah makna yang tersisa
Kecuali ini hanya sebuah lomba melantun Gurindam ?
Ketika usai
.....adakah makna yang tersisa ?


SYAIR GURINDAM : SEBUAH EPILOG

Prolog II
( Torehan Gurindam : Komplek Gubernuran )

Di bawah tangga
Tersusun terbingkai mengkotakan makna
Menyambut tetamu berbilang bangsa
Ketika provinsi termuda ini menjadi primadona

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Terkesan dalam, tamu negara tetangga menunjuk
Kalimat tersusun bingkai dimaksud

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Diartikan sedemikiannya
Sehingga tergagap memaknainya

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Artikulasikan dengan benar demikian pesan seorang kepala rombongan menerangkan
Kepada rombongan pelajar dari propinsi lain, bergerombol di bawah tangga
Lalu tuan rumah tergagap ketika ditanya dimana universitas negeri propinsi ini
Untung seorang doktor anak tempatan menjawab dengan diplomasi terlatih
..........................Insya Allah.....tahun ini

Berhutang kita pada sang penggubah
Memperkenalkan master piece yang tiada duanya
Lalu ketika itu dibingkai pada pandangan pertama menyapa
............Alangkah berbudayanya masyarakat tempatan ini
Demikian agaknya kesan yang ingin diberi............
Keramaian tamu, riuh rendah kunjungan hendaknya membawa kesan

Jika hendak mengenal orang yang baik berperangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Welcome to Gurindam City……..

SYAIR GURINDAM : SEBUAH EPILOG

Prolog III
( Torehan Gurindam : dinding tembok SMA Negeri 2 Tanjung Pinang )

Pagi.
Pemudi membaur pada upacara bendera Senin
Ada yang beda. Tembok membanjar dari tepi lapangan
Menuju turunan
Dihiasi pasal pasal gurindam


Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Pulang , siang .
Pemudi kini tak lagi malu
Membonceng dengan tangan melilit pinggang pemuda
Melintas dengan gerung sepeda motor berknalpot terbuka
Mencuri ijin dari ibu-bapa

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

( sang guru sastra mencoba menjawab : “ apa artinya kapil, bu ? “ )

Suatu hari
Seorang pelajar putri bunuh diri
Berita berseliweran hanya soal patah hati

( bung polisi mencoba menjawab : “ mengapa ia bunuh diri ? “ )


SYAIR GURINDAM : SEBUAH EPILOG

Prolog IV
( Torehan Gurindam : dinding tembok SD Negeri 003 Tanjung Pinang Barat )


Anak sulung menjelang gadisku
Menghapal pasal keenam gurindam
Suaranya lantang ditingkahi musik Peter Pan

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Melontar tanya membuatku tergugu
..........” Kawan menjadi obat. Bisa membuat kita sembuh dari sakit ?
..............................guru tahu tiap seteru........seperti Ucil dalam Tuyul & Mbak Yul ?
Yang tahu tiap Samson dan Gentong mengintai ?”

Anak gadisku
Menghapal bait pasal keenam gurindam

Cahari olehmu akan istri
Yang boleh menyerahkan diri
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Melontar pertanyaan membuat wajahku bersemu merah
........” Istri menyerah diri seperti apa ? “
.................Kawan yang setia , seperti Nur yang menunggu Kakak tiap pagi ? “

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

Melontar gumamam membuat wajahku bertambah merah ......
.............abdi itu seperti pembantu, ma ? Seperti bik Yanti ? disebutlah si bibik di rumah
........................Bik Yanti, baiiiiiik……..lebih baik dari mama ! ………”


SYAIR GURINDAM : SEBUAH MONOLOG

Monolog I
( Gedung Gurindam Jiwa Km 12 : Tanjung Pinang )

MELETUPKAN GURINDAM JIWA

.............Apabila banyak berkata-kata........
Disitulah jalan masuk dusta

Begitu banyak cerita, opini, survei, orasi hingga puisi
dan Lagu Wakil Rakyat seperti milik Iwan Fals

Di depan sana, sang wakil berdiri. Menjabat mitra dalam satu salam
Di depan gedung diberi nama Gurindam Jiwa, menjabar cerita pro-kontra
Hingga ketika hari ini

Mempersila mereka yang duduk di belakang, bernama pemilih mereka
Tanpa perlu mengetuk pintu, dan membuat janji, untuk menjadikan gedung
........bagian sebuah kebersamaan pemilik negara.

Apakah namanya, bila ketika berkata, dusta tercipta
Apakah polahnya, bila ketika berjanji, lupa ditaati

Meruntun bait gurindam jiwa

Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya
Lidah suka membenarkan dirinya

Merendeng berjejer pada singgasana yang dipisah berjarak
Menanda tempat meletak badan
Masih ada celah
Berbatas janji dan mengkotakan kata
Melepaskan alibi

Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar
Orang yang suka menampakkan jasa



Tak ada yang ragu akan janji ketika belum terpilih
Tak ada yang percaya ketika kemudian terpilih
Adalah dua hal yang menebalkan jarak dan batas
Lidah berkabar
Seperti angin menebar bau tak sedap
Mengaku-aku hasil jerih orang
Seperti angin menebar penyakit di musim utara

Masuk anginlah die...
Keluar asaplah orang

Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka

Gurindam jiwa sebagaimana nama
Mengandung makna diharap, menjadi bukti tepati janji bukan hanya kata sebatas hurup berangkai dalam pidato wakil rakyat berlembar-lembar,
Melempar aib dan tanggung jawab menjadi penjawab tanya orang berharap

Gurindam Jiwa. Wahai Gurindam Jiwa
Mimpikan arti sebenar sebuah janji



Tanjung Pinang, 2 April 2007



SYAIR GURINDAM : SEBUAH MONOLOG

Monolog II
( Sentosa 15 : Perjalanan Punggur – Bintan Pura )

MENCARI MAKNA TAKUT

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Berderu angin, mengocak ombak setinggi pandang
Mengurai wajah pias, lelaki bersafari
Teringat dirinya kewajiban menghadap Illahi Robbi
Dalam ritual sembahyang yang makin berlobang bilangannya

Menghempas diri dalam doa
Merunutkan asma dan lafadz zikir, yang semakin jarang dirapal

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Lelaki bersafari menunduk, membayang wajah keluarga
Dengan sekali hempas dan kuasa , dia sadar, pulang hanya bisa tinggal nama
Terbayang lagi, berapa jauh ia berada
..........seketika melupa diri , sang Khalik pencipta
...........tetes air di sudut mata, menggesa perutnya yang semakin menggila
...........terkocok hempas gelombang menghajar keakuannya

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat

Lelaki bersafari merunduk
Menyapu jam tangan mahal dan tiga cincin bermata berlian
Pada jemari tangannya. Tersentak pada bayangan
Lengan menggelembung dan jemari dimakan hiu
Ketika kapal terhempas dan seisinya berlontaran menggapai

Astaghfirullah.......desisnya. Sepenuh jiwa dan raga

Terpapar senarai dosa
Sepanjang masa.......pada usia paruh baya : mengumpul harta dunia dengan segala cara, mengaku berpuasa dan membukakannya pula dengan deretan dosa,
melalaikan zakat dan menambah riya ketika bersedekah
hingga berlibur ke air terjun niagara daripada menghajikan dirinya.
Pesan lelaki berkopiah, almarhum ayahndanya yang wafat dalam
kesesakan angan ingin menjejak kaki ke tanah suci, memutar bagai pita kisah tanpa suapa

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiada hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

Merunduk dia dalam rapal zikir
Ya Rabbi...........
Tersapu pandang pada nama tersulam di atas kocek
Ya Rabbi.......

Barang siapa tiada memegang agama
Segala gala tiada boleh dibilang nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat

Ya Rabbi......
Masih merintih ia takut mati , terpampang pada kasat matanya
Dilirik kembali diri. Sesosok tubuh hanya
Membayang diri mengapung , membujur

Ya Rabbi.......
Jangan butakan mata hati hamba lagi........
Mati, kubur, akhirat terlalu nyata.......

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta.

Ya Rabbi..........






SYAIR GURINDAM : SEBUAH MONOLOG

Monolog III
( Dompak Laut : Tempat kelahiran )

AMAT GAGU

Tetangga membilang, Amat Gagu kurang akal
Lahir karena guncangan ketika emaknya berperahu dari Dompak Laut
Di tengah rintihan mendekat hari , di kampung tak tergapai bidan
Amat Gagu lahir di tengah perjalanan
Mengharu biru perasaan,
cacat tangan, pekak pendengaran
lidah pelat mengucapkan

Amat Gagu tak sekolah
Mengeja namapun tertatih pelan
Emak semakin renta, menyalai tamban
Bapak terlunta melaut tanpa ikan karena kalah dengan tuba ditebar cukong ikan

Amat Gagu tak beradik
Menjadi tumpuan emak bapak
Belahan jiwa intan payung
Walau tak diharap mengganti cita
Menjadi dampingan harapan impian
Emak bapak menjalan faedah makna hidup tanpa keluhan

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita cita
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

Suatu senja, Amat Gagu hanyut tak berbekas
Tiga hari mencari, hanyutlah jasadnya menepi
Emak meraung, Bapak tergugu
Amat Gagu menyapa dari langit.........

..........“ Mak, Bapak.......aku nak tangkap ikan.....pergilah jual ke pekan .......“
Cita citanya tercapai. Amat Gagu dikubur sebagai pahlawan

Tiada pernah ia menyakiti emaknya walau kuping dan lidahnya tak sempurna
Tiada pernah ia melukai bapaknya walau tangan dan perutnya lemah tak berdaya
Tak hilang semangat emak dan bapak berkunjung ke kubur tiap senja

Bersungguh sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fiil yang tak senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat
Disitulah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

Amat Gagu sempurna sebagai manusia
Tempatnya di surga
Menunggu emak bapaknya


SYAIR GURINDAM : SEBUAH MONOLOG

Monolog IV

PELANTIKAN

Dengan setelan putih berlencana
Tanda jasa menyemat gagah, bersarung selempang tanda jasa

Kado pelantikan memimpin negeri, seorang dara melantun pasal kesebelas Gurindam
Terhenyak hadirin mendayu suara merepih makna

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

Jabatan ini hanya kepercayaan. Amanat. Demikian isi wawancara selesai pelantikan
Cita cita membawa masyarakat menuju kesejahteraan

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Dihapalnya bait berikut. Terbayang setumpuk beban di depan. Mampukah kendali di
tangan nya melatih marah, malu, perangai manusiawi yang kental menjadi diri, akan terkendali ?

Hendak marah
Dahulukan hukkah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramah
Murahkan perangai


Senyum nya mengembang. Ramah. The smiling Governor
Bahkan hingga hari ini ketika semua menagih janji.........


SYAIR GURINDAM : SEBUAH MONOLOG

Monolog IV

SIAPA KITA ?

Lelaki perempuan bercampur
Asap rokok, hingar musik tanpa nada
Hanya kebisingan semata

Seorang mami berdiri menjaja
Melempar senyur menebar pesona
Anak anak didik melingkar sempurna
Dikelilingnya......

Ini pemandangan biasa
Ada di sudut kota bergelar Bandar Madani
Atau di ibukota Kabupaten pemekaran di propinsi muda
Bernama Kepulauan Riau
Atau di pub berkelas di Hotel berbintang di wilayah lainnya
Pada belahan kota kabupatan di sudut berbeda dalam peta

Tempat menjamu tamu terhormat
Mengguna SPJ ataupun apapun namanya di era KPK dan BPK

Inilah Kepulauan risau itu.......

Ketika marwah berpancang hanya slogan di logo

Menangis tanpa airmata dara jelita bertutup kepala
Melantun bait bait pasal kesembilan
..........................suaranya mendayu tepat menghulu

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segala hamba hamba raja
Disitulah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

Tempat tempat seperti itu nyata dan berbilang jumlahnya
Hingga , Moamar Emka tertawa ketika Markus Gunawan mengikut jejaknya
Mencetak Sex Undercover versi Batam.......
Entahlah pemasarannya, ketika semua berteriak menggugat

Batam Bintan bukan surga wisata syahwat........

Menangis tanpa airmata dara jelita bertutup kepala
Melantun akhir bait bait pasal kesembilan
..........................suaranya mendayu tepat menghulu


Perkumpulan laki laki dengan perempuan
Disitulah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua yang hemat
Syaitan yak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

Di lantai disko dengan lampu remang
Ada juga sosok tua yang bergeletar
Disakaw sabu dan kemabukan
Dikelilingi sahabat sahabat muda yang mengulur soal
Dan pelajaran tentang mencari uang untuk kesenangan


SYAIR GURINDAM : SEBUAH DIALOG

Dialog I
ABUNAWAS JADI RAJA

Pakta Integritas disodorkannya
Pada deretan perdana menteri dalam susunan pemerintahan kerajaan barunya
Yang akan dilantiknya
Hari ini......

Menteri perdagangan menolak butir perjanjian
Disebutnya mengekang hak sebagai manusia
Yang mempunyai keinginan
Sang Menteri menyodorkan lembar bermeterai
Dibacanya sekilas tentang pembagian keuntungan
Ditorehkannya tanda tangan tanpa membaca

Ini memang si Abunawas......

Raja Mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja


Hakim Agung yang terpilih meludah
Menyodorkan lencana yang direnggutnya dari dadanya sendiri
Menolak mengesahkan permintaan barter perkara
Dengan kerabat raja untuk jabatan baru

Abunawas tertawa
Terbahak bahak, menepuk pundak sang Hakim Agung
.........“ Awaklah yang saya cari ........“

Ini memang si Abunawas

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Abunawas jadi raja karena akalnya
Berilmu tanpa harus menunjukkan kuasa
Terkekeh dia melihat rakyat menyambutnya
Dah banyak pendaftar untuk pendopo perguruannya
Yang kini dikelola anaknya


Kasihkan orang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang padai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Rakyat masih mengelu elu,
Tak tau Abunawas berhitung untung rugi
Antara kecintaan rahmat rakyat
Dengan kekayaan yang menunggu diolah kepandaiannya
Entah kasa entah cindai
Masih itu yang tak terjawab si Abunawas yang terkenal lihai


Tiba tiba sang Raja terduduk
Mati tercekik tuba dihidang
Mata tak juga terpejam ketika permaisuri menutupkannya
Abunawas tak sempat bermimpi......
Menjadi Raja buta hati

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

SYAIR GURINDAM : SEBUAH DIALOG

Dialog II
KERAJAAN DALAM TUBUH

Bila dengki iri merajai

Dua orang sahabat sebantal sepetiduran
Merangsek bunuh bunuhan

Hanya ketika kedengkian merajai pikiran itu terjadi
Hilang sudah akal di kepala, sebab semata mulut berbohong

Perkelahian mereka disaksikan
Tanpa ada yang berani memisahkan
Si keras hati yang sedari dulu selalu berdiri di depan
Lupakan si gagah perkasa yang menjaganya di belakang
Ini hanya tentang persahabatan
Pengkhianatan
Kepercayaan

Kebohongan

Masa kecil penuh kenangan, masa remaja seperjalanan, masa muda tanpa terpisahkan
Terburai darah dendam , dikotori umpatan bagai anak panah melesat tepat ke titik kematian

Mereka berdua terkapar
Bagai lanun diserang meriam
Hancur lebur mati bersepih

SYAIR GURINDAM : SEBUAH DIALOG

Dialog III : PENUTUP

Tak mampu lagi diperkatakan tanpa batasan
Ketika kata kata tak lebih hanya menjadi deretan hurup
Dan kalimat tak lebih hanya menjadi deretan paragrap

Jangan bicara berlebihan, ketika tak bisa memaknai
Jangan berdusta lagi, ketika dosa makin panjang catatannya
Jangan mengkritik terus, bung !
Jangan tidur terus, seniman !
Inspirasi tak datang dalam mimpimu
Minatmu perlu peka tidak dengan menggubris orang lain
Jangan pernah mencemburui rejeki tetanggamu
Ketika karya puisi dan cerpenmu sudah tak laku

Dan hatimu tak lagi mau berlemah lembut
Keinginan membuat onar membuncah
Mengguncang
Ketidaksabaran rekening di jalur debetmu
Jangan menjadi pengumpat, pengadu

--------------------------
Hanya ketika sang maestro tanah ini
Hanya ketika sang suhu dan legenda
Memaparkan tumpahan jiwa dalam deretan pasal pasal Gurindam 12

Bacalah bung !
Resapi dan banggailah bahwa sang pujangga berasal dari tanah mu ini


Lalu
Bandingkan dengan kita, dengan dirimu, diriku.....
Coretan penamu menjadi tumpul
Kritik mu menjadi basi
Tanpa makna yang berarti


Lalu engkau tersadar.....
Engkau memang bukan siapa siapa

Dibandingkah satu baitpun dalam gubahan sang pujangga sejati
( Kutipan pasal ketujuh Gurindam XII)

Friday, December 19, 2008

BENG BENG

Proses Pembelajaran


Blog ini tercipta akibat rasa penasaran: Masa' sih bikin blog saja tidak bisa
Masa' sih, mengotak atik benda bernama komputer saja kalah dengan Beng Beng
yang bisa set up server printer, trouble shooting alias perbaikan perbaikan segala sesuatu berkaitan dengan benda bernama komputer 'belajar secara otodidak' seperti Beng Beng

Beng Beng, adalah juru komputer junior kami di kantor. Ajaibnya , ( hik hik -mudah-mudahan Beng Beng tidak GR, ) ybs tidak pernah kuliah atau kursus komputer secara formal

Tiada hari yang boleh lewat tanpa Beng Beng ( terutama kalo ada trouble komputer ) Beng beng adalah Capucino terenak di kantor . Teh hangat yang tersedia di pagi hari dan segelas air putih dalam gelas besar untuk teman makan siang.

Lebih ajaib,karena si kurus item dari Jambi itu adalah Office Boy kami ,yang punya laptop canggih lungsuran dari Dirut karena Dirut jatuh hati pada capucino ketak ketik Beng Beng - alias Beng beng melanglang buana chatting internetan de el el de es be


Percayalah : karena Beng beng mau belajar lebih



Jadi, tak kupercaya, para mahasiswa kelas ekstension ku - ada yang tidak tau bagaimana mencari bahan paper tugas kuliah - dengan cara browsing internet.

"Macam mane bu, cara nak browsing tu?????? "


oh my God. Maluuuu de sama Beng Beng.




(Mbang........ibuk udah punya blog .......)

EEN IRNASARI :




Naik Tanki bridger - yang distop jam enam pagi- dilakoni.
Jarak Tanjung Pinang - Sri Bintan, cuman sekelipan nafas
yang istirahat dalam mimpi guru-guru yang menempuhnya tiaphari
Ada yang bermotor-menempuh jarah puluhan kilo. dalam panas dan hujan.
Sebagian menyisihkan ongkos yang tidak sedikit untuk PP dengan kendaraan umum.
Jangan heran ini terjadi di provinsi kaya bernama Kepri, kabupaten penyumbang
PAD terbesar dari Bintan . Di sini
Dan tak pernah kita belajar tentang keluhan itu, dari guru guru yang berhutang moral
ketika harus bolos ,meninggalkan kelas untuk alasan yang bagi profesi lain adalah biasa.
Bangga menyebut, anak didiknya yang lolos seleksi basket tingkat kabupaten
lantang cerita tentang status akreditasi B untuk SMA Negeri Teluk Sebong nya
yang baru seumur jagung

Berkali-kali, menelpon di tengah on air RRI anak didik yang melantunkan puisi bahasa Inggris tak kalah canggih dengan siapapun menurutnya. Bergemuruh
mengalahkan air terjun Gunung Bintan
Lalu, mengapa novel LASKAR PELANGI menjadi ssangat spektakuler , karena isu pendidikan adalah kekuatan seorang ibu Muslimah yang mengagumkan.
Bu Een, mungkin perlu menangis ketika menonton Laskar Pelangi, karena bayangannya yang lekat pada hari hari sebagai guru adalah representasi apresiasi pada Andrea Hirata yang dengan luar biasa mengangkat tema pengabdian pada pendidikan,
Tanki bridger, lewat, dengan santai dilambaikannya tangan : " Numpaaaaang ....."
berpuluh guru yang lain melewati prosesi yang sama tiap hari.
Menumpang bis usai subuh mengejar jarak ke pelosok Bintan.
Maka, ketika ada Caleg-caleg yang jual kecap mengangkat isu pendidikan-
Pilihan ku adalah membuang mimpi menconteng nama mereka
- all of them ,if only to provide a teacher bus or giving them a transportation allowance !!!!
tidak bisa diwujudkan jadi nyata. Bukan sekedar janji kampanye
Pak Ansar, Tolong belikan bu een dan bu een lainnya bis khusus guru !!!!!!!!!
Buat Een Irnasari, sahabat hati yang mengajarkan bersuara lantang
( " Kalau mengajar yang penting, suara kita itu lantang, bu.....jadi anak-anak konsentrasi mendengarkan penjelasan kita)
Kutipan curhat :
" Apa aku bisa mengajar dengan baik ? "
" Yang penting , mengajar dengan hati "...............

Dont you laugh......Bun......

Having a personal blog ?

Biasa. Everybody have that now. everywhere. Everybody


Mulai dari Deee alias Dewi lestari, anjelina sondakh, sampe Andrea Hirata. dari Meity mutiara, Ranan sampe Nirmala Utari Gultom yang blognya canggih , atau pemula pemula lain yang cuman tiga kali posting trus mati suri.

But me?

So, here is the conversation with my dear friend


riza provita : Buuuuuuu
Eva Amalia rofii : kenape?
riza provita : lagi apaan bu ?
Eva Amalia rofii : nulis blog gw
riza provita : blog loe apaan bu

Eva Amalia rofii : baru bener bun.....
Eva Amalia rofii : mantaplah pokoknya
riza provita : iye....apaan namanya? biar gw liat, mantap mana ama ama blog
ranan
Eva Amalia rofii : ranan kan jagoan neon -tak terlawan lah aku bu
riza provita : oke,mantap mana ama pak sitohang, daddy atau metty
Eva Amalia rofii : busyeeet gw baru mo mulai
riza provita : jangan-jangan lebih meledak
Eva Amalia rofii : baru dua kali posting
riza provita : iye apaan namanya



Bun, blog ini didedikasikan ( busyeeeeet ) untuk menghormati profesiku yang baru sebagai Dosen. Akan kubuktikan padamu -------- mak oi macam pembuktian cinta Afghan pada Eva Sofia Latjuba ,

bahwa blog ini tak akan mati suri. Tak akan hangat hangat tai ayam belaka- blog ini akan sangat menyenangkan untuk dibaca oleh orang orang sibuk kayak dirimu......karena it will share the same thoughts of being so busy as a career mother

And menjadi dosen ,adalah -misi tersembunyi- kita kan ?


For Riza Provita who giving me her ' positive jelaousy feeling '

BERDIRI DI DEPAN KELAS

Ada hampir 48 mahasiswa - yang tertera di daftar mahasiswa semester III itu. Yang jelas tentu saja berdasarkan nama yang ada,tertulis

Pertemuan perkuliahan sudah 11 kali - dan kelas selalu penuh. Menyenangkan . " Rugi kalau tak masuk kelas bu Eva........." Itu komentar salah satu mahasiswa - dari bisik bisik - I am now quite popular ...........tak percaya ?


Sudah beberapa kali dengan sengaja mengintip proses pembelajaran ruang sebelah saat perkuliahan berlangsung.Hmmmmmmm....... seorang dosen lama ,hanya menenteng sebuah buku referensi -fotocopian lagi he he- jelas dari tekukan nya kok. Terus kelas sebelah , hiruk pikuk ,mungkin karena ibu dosennya terduduk di kursi mengoceh suaranya tak terdengar - di belakang ,arisan berlangsung .........

Kelasku ? Aku membiasakan diri berdiri dan menulis beberapa 'Key Word' ketika menerangkan sesuatu. Dan empatpuluh pasang mata akan mengikuti dengan antusias-kecuali tentu karena suaraku yang amit-amit lantangnya atau hmmmmm I still look pretty at the age of 40 !!

Being there is so nice .......


Kelas Sistem Sosial Budaya 2008 FISIP UMRAH

Tuesday, April 8, 2008

LIFE BEGIN AT FORTY !!!!!

Today's Batam Post !

Pengumuman penerimaan dosen tetap UMRAH ! dan namaku pada urutan ke20- Tidak mudah menyembunyikan kegembiraan yang meletup letupkan semangat. Pilihan hidup, meninggalkan jejak yang tak mudah diliput dalam sketsa perjalanan.

Inilah perjalanan hidup
40 tahun 1 bulan 5 hari : terlalu tua untuk memulai karier baru di dunia baru yang sama sekali beda. Keyakinan yang menyerlah .....hmmmmmm mungkin inilah perjalanan baru itu